Kas Rizal STMIK NH JAMBI

Sabtu, 09 Februari 2013

Perjuangan Anak Desa

Rp.45.000
Tanganku menari-nari bersama pena di atas kertas putih yang belum di tetes tinta. Ku coba untuk meneteskan tinta demi tinta dengan 100 kata impian-impian dalam hidupku. Sebagai motivasi untuk hidupku dan sebagai jalan yang harus ku tempuh untuk mencapai keberhasilan. Panas trik mentari pagi menyinari bumi seolah-olah memberi semangat untuk beraktivitas. Alunan suara burung melantunkan suara merdu memperindah suasana. Hatiku terbawa dalam sebuah lamunan dan sebuah mimpi. Semua berawal dari sebuah mimpi dan sebuah khanyalan. Mimpi dan khayalan inilah yang memaksaku untuk mencapai keberhasilan dan kesuksesan. Sebuah lamunan membawaku terbang tinggi dan melayang-layang di angkasa. Hidup yang penuh dengan kecerian dan kebebasan itulah kesuksesan. Mimpi itu akan ku tuang melalui tulisan di setiap tetesan tinta dengan kata-kata dalam sebuah kalimat. Tinta itu mengalir deras bagaikan air yang mengalir dan tak mau berhenti mengalir. Panas mentari bersinar menyinari lubang kecil di kamarku. Aku telah bangun dan aku duduk di meja berdiam diri sambil menikmati secangkir teh manis dari ibuku menambah nikmatnya pagi kurasakan. Ketika aku keluar dari kamarku ku melihat sosok pria tua yang aku kenal memakai baju yang lusuh yang dipenuhi koyakan di sekeliling di bajunya. Baju usang yang sudah tak layak di pakai dan dengan membawa satu pisau untuk menyadap karet. Itulah sosok ayahku sobat. Aku langsung tertegun melihatnya. Air mataku terjatuh seolah-olah menggantikan suasana yang begitu indahnya mentari pagi berubah menjadi mendung dan hujan berjatuhan. Ku dekati ayahku. Ayahku mendekat kepadaku dan tersenyuman seolah-olah menikmati pekerjaannya. Aku merasa tenang dengan sebuah senyuman yang menghias bibir Ayahku. aku damai dan nyaman bersamanya. Aku termenung dan tampa bicara didepannya. Dalam hatiku “terimakasih ya Allah engkau kirimkan ayah yang terbaik untuk hamba. Yang begitu menyayangi keluarganya”. Aku sangat bersyukur kepada sang pencipta. Setelah memberiku sebuah senyuman yang begitu bermakna. Ayahku pergi untuk bekerja. Tinggallah aku termenung sendirian. Pekerjaan Ayahku adalah seorang penyadap karet. Badan ayahku yang begitu tegap, kulitnya yang putih dan tinggi ia pergunakan untuk mengabdi kapada keluarganya. Setiap hari ayahku selalu bekerja. Pohon karet sudah menjadi menu utama baginya, batang karet inilah tempat bersandar bagi keluarga kami, tempat mencari uang, dan tempat mendapat rizki yang allah berikan. Langkah demi langkah, berlari dan mengejar batang demi batang karet yang ingin di potong. Ketakutan bukanlah menjadi halangan. Kesendirian dalam hutan bekerja sebagai petani karet sudah menjadi kebiasaan. Tidak pernah terlintas rasa kecewa, rasa penyesalan dia terus menjalani pekerjaan dengan senyuman. Itulah ayahku sobat meskipun dia pulang dari bekerja yang begitu melelahkan dia tetap memberikan senyuman bagi keluarganya. Senyum yang tak pernah lepas dari bibinya. Ayah yang subhanallah luar biasa dialah sosok yang takkan pernah terlupakan dalam hidup ini. Menjadi sejarah didalam ingatan ini dan selalu ku kenang sepanjang masa. Aku anak ke-2 dari 4 bersaudara, aku sangat beruntung sekali sobat, aku memiliki Kakak yang baik, Adik yang baik, Ayah dan Ibu yang sangat luar biasa bagiku, tiada kata yang dapat terucap dari bibir ini hanya ucapan terimaksih kepada mereka semua. Merekalah yang menjadi modal utama aku berjuang untuk meneruskan pendidikan demi mencapai cita-citaku. Ibu dan Ayah yang selalu membimbingku dan mengajarkanku dengan penuh keikhlasan dan rasa kasih sayang betapa angung hati mereka. Merekalah pahlawan bagi hidupku. Ayahku bekerja seorang Petani yang pergi pagi pulang sore. Bersikeras bekerja untuk menghidupi kami, tiada kenal lelah, tiada kenal letih dan dahaga semua ia lakukan untuk keluarganya tercinta. Ayahku adalah seorang pahlawan sekaligus pigur yang sangat aku idolakan dalam hidupku, dalam tangis ku berdo’a “semoga allah membalas semua kebaikanmu Ayah”, ucapan terimakasih ini tak cukup untuk membalas semua jerih payahmu tapi hanya itulah yang ananda bisa katakan sekarang. Ayah, Ibu ananda berjanji di masa yang akan datang insya Allah ananda akan memberikan kebanggaan kepada ayah dan ibu bahwa anakmu ini tidak hanya bisa merepotkan Ayah dan Ibu tapi, ananda berusaha menjadi orang yang insya allah akan berhasil. Keberhasilan ananda nanti, ananda persembahkan untuk kalian berdua. sobat mari kita berdo’a sejenak untuk orang tua kita, yang mana ia sudah susah payah membesarkan kita hingga kita tumbuh dewasa sebagaimana sabda Rasulalloh Saw: kata allah: “Barangsiapa yang berdo’a pada-ku pasti akan aku kabulkan, barangsiapa yang memohon pada-ku, pasti akan aku beri dan barangsiapa yang mohon ampun pada-kupasti akan aku ampuni” (H.R Bukhari Muslim) Baiklah sebagaimana sabda Rasulallah saw yang tertera di atas bahwa allah pasti akan mengabulkan do’a kita jika kita berdo’a maka dari itu sahabat mari kita sama-sama berdo’a sebagaimana yang tertulis di babawah ini. “ya Allah yang maha pengasih dan maha peyayang kami mohon, ampunilah dosa hamba dan dosa kedua orang tua hamba dan sayangilah dia sebagaimana dia meyayangi kami di waktu kecil, ya Allah kami mohon jangan biarkan mereka pergi meninggalkan kami ketika kami belum bisa membahagiakan mereka, ya Allah kami tahu selama ini kami sering membuat mereka menangis dan bersedih melihat tingkah laku kami, ya allah izinkan kami untuk bisa mengukir sebuah senyum bahagia di pipinya amien”. Sobat, coba anda bayangkan ketika orang tua anda sudah pergi meninggalkan anda ketika itu anda belum bisa membuat orang tua anda tersenyum bahagia dengan keberhasilan anda, pasti penyesalan dan kekecewaanlah yang kita rasakan. Ada sebuah cerita mungkin bisa menjadi pelajaran bagi kita bersama yaitu di sebuah desa hiduplah seorang janda tua dengan seorang anak laki-laki kita sebut aja namanya budi. Budi adalah anak satu-satunya dari janda tua tersebut, dia sangat sayang sekali pada anaknya hingga suatu masa anaknya ingin melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi yang jauh dari desa tersebut. Ketika anaknya memberitahukan kepada ibunya, tentu saja persaan tidak ingin berpisah dari sang anak yang sangat dia cintai. tapi, walau gimanapun dia harus menyekolahkan anaknya sampai keperguruan tinggi itulah cita-cita janda tua tersebut. Setelah meminta izin dari Ibunya budi pergi meninggalkan ibundanya tercinta. Akhirnya budi kuliah di sebuah kota besar, singkat cerita setelah 4 tahun kuliah budi pulang ke desa untuk menjenguk ibundanya, ketika tiba di desa bertemu dengan ibunya mereka saling berpelukan untuk melepas rasa kerinduan mereka selama bertahun-tahun, setelah beberapa hari di Desa tibalah saatnya budi harus kembali ke Kota untuk melanjutkan kuliahnya, sebelum pulang ke kota ada satu permintaan dari ibunya, ibu budi ingin foto keluarga dengan budi tapi, budinya bilang “lain kali aja bu karena saya masih banyak tugas kuliah”, ketika budi sudah sampai di kota dia di telepon oleh sepupu terdekatnya bahwa ibunya sudah meninggal dunia, alangkah terkejutnya budi menangis pada saat itu, padahal baru saja budi kembali ke kota ibunya sudah tiada. Sekarang tinggal penyesalan dan deraian air mata bagi budi, budi menyesal dia tidak menuruti keinginan orang tuanya untuk foto keluarga, dia sudah melalaikan perkataan orang tuanya padahal permintaan itu adalah permintaan terakhir Ibu budi. Cerita diatas kita bisa mengambil pelajaran bahwa kita harus melakukan apapun yang orang tua kita inginkan, selagi kita masih bisa melakukan yang terbaik untuk ibunda kita maka lakukanlah, karena, sudah banyak penderitaan yang ia alami demi membesarkan kita Coba kita banyangkan ketika kita mau wisuda nanti, orang tua kita sudah tiada, kita pasti merasa sedih karena orang tua kita tidak melihat keberhasilan kita. Tapi harus sahabat tahu meskipun orang tua sahabat sudah meninggal kita tidak perlu bersedih, dan kita harus yakin bahwa arwah beliau akan bangga melihat keberhasilan sahabat hari ini, apapun yang sahabat lakukan selagi yang baik maka dia akan tersenyum bahagia meskipun sahabat tidak bisa secara langsung melihatnya. Orang tua adalah segalanya dalam hidup kita sulit sekali kita untuk jauh dari mereka. Mungkin sahabat ada yang menuntut ilmu di kota besar dan berpisah dengan orang tua sahabat. Satu pesan saya lakukan yang terbaik untuk orang tua sahabat dan jangan pernah sekali-kali sahabat mengecewakan mereka. Sudah cukup penderitaan orang tua kita selama ini. Dari kita dalam kandungan. Kemudian kita melahirkan selanjutnya kita di besarkan. Sekarang sahabat sudah besar jangan pernah melawan ataupun marah ke pada kedua orang tua sahabat. Kita tidak pantas untuk memarahi mereka, merekalah yang pantas memarahi kita. Tetapi, mereka tidak mau memarahi kita karena dia sangat menyayangi kita. Jangan mentang-mentang kita sudah besar kita merasa kita lebih pintar dari mereka. Kita tidak mau lagi mendengar ucapan mereka. Itu adalah kesalahan besar yang anda lakukan. Apakah anda ingat firman allah dalam al-qur’an yang artinya: “ridha allah terletak kepada rihda ibu dan bapak sedangkan kemurkaaan allah terletak pada kemurkaan ibu bapak” Sebagaimana firman allah diatas jelas sekali bahwa allah menghormati sekali orang tua kita, kita tidak boleh sewenang-wenang sama mereka, jika anda ingin membalas jasa orangtua anda niscaya, anda tidak akan mampu membalas jasa mereka, meskipun dunia ini di penuhi dengan air mata kita belum bisa membalas setetes air susunya, dan seandainya kita menggendongnya mengelilingi dunia ini itu pun belum juga bisa membalas sakitnya ibu melahirkan kita. Pernahkah orang tua kita menuntut balas jasa dari jerih payah ia mengurusi kita? Pasti tidak,sobat mereka melakukannya dengan penuh keikhlasan tampa mengharapkan imbalan dari anaknya, mereka hanya berharap semoga ketika anaknya besar nanti bisa berbakti kepadanya. Setelah kita di lahirkan belum cukup sampai di situ penderitaan yang ia rasakan, bukan berkurang penderitaan yang mereka rasakan tetapi, malah menambah beban mereka. Maka dari itu sobat, mari kita memperbaiki diri, minta ma’aflah kepada kedua orang tua kita sebelum terlambat, mereka pasti mema’afkan kita. **** ...
Add to Cart

0 komentar:

Posting Komentar